Courtesy: Youtube

Sebuah pesan dari Bapak Prof. Dr. BJ Habibie dalam suatu acara interview merupakan salah satu pesan bagi kita semua untuk membuka mata lebih lebar. Beliau merupakan cendekiawan yang sangat berpengaruh di Indonesia terutama dibidang teknologi. Kita pasti telah mengenal siapa Beliau ini. Beliau merupakan penggagas industri pesawat terbang pertama di Indonesia. Ternyata studinya di jerman membuahkan hasil yang memuaskan.

Dibalik dari keberhasilan seorang BJ Habibie, tentu semua yang Beliau raih sekarang ini bukan berarti tanpa pengorbanan. Setelah lulus SMA di bandung, kemudian melanjutkan belajar ke jerman, Aachen. Menurut Beliau, biaya yang digunakan untuk belajar di jerman bukan biaya dari pemerintah ataupun beasiswa, tetapi biaya dari orang tuanya, khususnya ibunya. Ibu dari Bapak Habibie mencari biaya sekolah untuk putranya dengan cara berjualan catering di bandung.

Di dalam initerview yang panjang, saya mengambil sepotong dari pembicaraan Bapak Habibie. Menurut Beliau, manusia itu dari bayi, terus dan terus mengalami kemajuan nilai. Misalnya, menjadi bisa berbicara, menjadi bisa belari, menjadi bisa membaca dan seterusnya dan hal itu pun masih terus melekat kepada kita semua, termasuk “Keinginan” kita. Versi “Keinginan” pada Bapak Habibie adalah “ Rasa Keingintahuan”, karena itulah yang ada pada diri Bapak Habibie. Untuk memperolehnya, Beliau gunakan sebagian waktunya untuk membaca dan membaca. Akan tetapi, dalam pembentukan nilai individu itu ada sebuah proses yang dibagi dalam 3 tahap yaitu 1. Proses Pembudayaan, proses yang sangat dasar ketika si Bayi mulai masuk kedalam kehidupan. Dalam proses ini, si bayi diajarkan budaya orang tuanya, jika orang tuanya orang jawa, diajarkanlah budaya jawa, jika orang bugis maka, diajarkanlah budaya bugis, ini sangat bagus dan indah. sehingga perilaku anak tersebut menyenangkan bagi orang di sekelilingnya, karena dia berbudaya. Tetapi yang paling penting adalah diajarkan agama ke anak tersebut, jika orang tuanya muslim, ajarkan anaknya ajaran Islam, begitupula dengan yang Nasrani, Hindu, Budha maupun yang keyakinan lainnya. Kemudian, 2. Budaya Bebas Bepikir, jika kita ingin mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya pikiran kita jangan mau dibatasi dengan hal-hal yang negative, seperti ditakut-takuti ketika melakukan hal ini dan hal itu. Itu tidak bebas, karena dikekang oleh dogma-dogma yang membatasi  kita berfikir dan bertindak. Tetapi, setiap orang mempunyai keyakinan dan agama dan setiap agama tidak mengajarkan keburukan, dan di agama tertuai budaya berkehidupan yang baik.  Yang terakhir, 3. Budaya Bebas Dikritik dan Mengritik, pertama yang “dikritik”, mengingat kita yang masih dalam tahap penaikan nilai individu, pastinya kita sering dikritik karena banyak kesalahan langkah yang kita ambil dan jika kita sedang dikritik, kita tidak boleh marah bahkan kita bersyukur karena ada orang yang memikirkan masa depan kita, jika isi kritikan itu benar adanya, maka dari situ kita memperbaiki kualitas diri kita, jika kritikan itu hanya ungkapan-ungkapan yang negative terhadap diri kita, anggap saja itu pendapat orang lain dan kita harus menghargai pendapat orang tersebut. Kemudian, untuk yang “mengkritik”, apa yang kita pikirkan untuk kemajuan bersama, kenapa tidak kita beri mereka masukan? Itu akan menambah wawasn kita dan kita akan tahu sebenarnya apa yang mereka inginkan, juga apa yang mereka pikirkan tentang pendapat kita. Inilah 3 proses yang harus manusia tempuh untuk meningkatkan nilai yang ada pada dirinya. Manusia yang sudah melewati proses ini, telah dikatakan oleh Bapak Habibie, orang tersebut akan bermanfaat bagi masyarakat, karena dia berbudaya (etika, moral, semacam itu)dan beragama, bebas berpikir, bebas menilai dan bebas dikritik.

Saya pribadi setuju dengan pendapat Bapak Habibie bahwa manusia itu selama hidupnya akan mengalami penaikan nilai individu, entah itu berkaitan dengan fisik kita, spirit kita, kemampuan kita membaca, berbicara dan sebaigainya. Dalam proses tersebut dikatakan ketika kita dalam tahap pembudayaan yang mencakup aspek tingkah laku, yang paling penting adalah diajarkannya A.G.A.M.A. Kemudian kita disarankan untuk bebas berfikir, berkreasi sampai kita bebas dikritik. Sangat mengagumkan. Satu pengetahuan bagi saya, dan saya beri tahu untuk pemabaca.

Jadi seperti inilah yang dapat saya serap dari pembicaraan Bapak BJ Habibie di dalam interview tersebut. Jika ingin tahu detailnya, bisa mengklik video dibawah.

Episode 1 – BJ Habibie – part 1/5

Episode 1 – BJ Habibie – part 2/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s