Dewasa dinilai dari Usia ato dari Akhlak dulu ya???(2)

Posted: October 2, 2010 in IdeQ
Tags: , , , ,

Ok aku ingin melanjutkan yang kemaren. Kita udah ngebahas tentang kebebasan yang bertanggung jawab, right? Sekarang aku pengen membicarakan tentang masalah psikis dan tingkat emosional orang dewasa, nah ini adalah point yang ke 2. Menurut dari pengalaman saya hidup selama 21 tahun ini seseorang akan bertindak lebih rasional dan bisa menyusun emosinya terhadap lingkungan sekitar. Dia akan bersifat tegas jika memang itu diperlukan, dia akan bersifat perhatian jika ada tamu lebih-lebih jika ada adik kelas. Dapat memberikan rasa aman dan tentram ke orang-orang sekitarnya, bahkan dia terus mencoba memahami apa yang terjadi di sekitarnya dan bagaimana dia bertingkah laku terhadap lingkungan itu. Ini menekankan bahwa orang dewasa bisa beradaptasi dengan mudah dimanapun dia berada. Tipe orang yang dewasa pun harus pintar joke, jadi ketika suasana tegang dia dapat melumerkan suasana menjadi rileks. Kemampuan seperti ini, aku pikir ga akan bisa didapat oleh orang yang biasa dan tak mau mendengarkan dan membaca apa yang ada disekitarnya, yang menjadi kebutuhan sekitarnya dan seolah dirinya sudah cukup dengan apa yang ada, tidak mau mencari sesuatu yang baru di sekitarnya. Orang akan lebih bisa menjadi dewasa ketika dia sering ditempa dengan keadaan yang kurang mendukung dia, sehingga dia berfikir dan mengontrol emosinya. Orang dewasa bisa saja di anggap orang yang berpengalaman.

Aku pikir, kunci utama dari kedewasaan itu sendiri adalah bersifat tenang, tidak buru-buru, karena dia awas dengan langkah-langkah yang akan dia ambil, dan bisa memahami tujuan yang sebenarnya. Mencari ketenangan, mendapatkan ketenangan , akan mempermudah dia berfikir rasional dan menata emosinya. Cukup susah menurutku. Faktor lingkungan keluarga sangat mendukung kita untuk cepat berfikir dan bersikap dewasa, sedangkan lingkungan sekitar merupakan tempat untuk mempraktekkan apa yang telah mereka dapatkan di keluarga, seiring dengan tanggapan dari sekeliling, kita dapat memantapkan diri kita, seperti yang kita inginkan.

Semakin kita beranjak tua, semakin sering kita menggunakan waktu luang kita untuk berfikir, terserah mau berfikir apa, tetapi apa yang saya alami memang seperti itu(mungkin dah fitrahnya kali ya). Tetapi saya tekankan lagi, belum tentu orang yang udah tua, mengindikasikan tingkat kedewasaannya, contohnya saja banyak anggota DPR yang sudah beruban tapi jika berdiskusi bisa naik ke atas meja dan berkoar-koar layaknya anak kecil yang merengek rengek karena “menginginkan sesuatu” dari ibunya(klo DPR mungkin ma panitia anggaran kali ya?). Ada orang yang bener-bener dewasa itu pada 26 tahun ada yang 30 tahun ada yang sudah 40 tahun baru mengerti kedewasaan itu bagaimana. Semuanya itu butuh proses, mungkin kita dapat menemukan katalis pemercepat proses it, ataupun kita harus bersabar dengan latihan demi latihan, sosialisasi. Sehingga kita tidak hanya dewasa menurut fisik saja, tapi dewasa menurut kejiwaan juga. Kemudian saya juga berfikir, mengapa pemerintah mematok usia dewasa itu 17 tahun ato 18 tahun (khusus Indonesia), kemungkinan yang dapat saya katakana adalah faktor fisik, pada umumnya kedewasaan fisik sudah didapat ketika remaja mencapai usia 17 tahun, yang laki-laki sudah bisa membuahi dan yang perempuan bisa dibuahi hehehe. Kemudian usia usia tersebut merupakan masa-masa transisi dari pubertas ke dewasa, yang bisa dinilai dari sifat keingintahuan yang tinggi, merencanakan kegiatan seperti di OSIS ato organisasi dan logika yang berkembang pesat membuat mereka berfikir lebih kritis dari pada sebelumnya dan mulai masuk ke lingkungan masyarakat. Namun, pada umumnya mereka masih unstable emosinya psikisnya.

Pendapat saya tentang kedewasaan memang dinilai dari 2 sisi, fisik dan kejiwaan(akhlak), bukan hanya faktor usia semata, karena jika kita mematok usia, padahal kedewasaan dilatar belakangi faktor lingkungan dan pendidikan dan setiap orang berbeda-beda, ini tidak adil sehingga saya berpendapat faktor akhlak atau kejiwaanlah yang menjadi ukuran atau standar kedewasaan.

Tulisan ini saya buat, karena saya juga termasuk orang yang belum dewasa, padahal udah masuk 21 tahun. Sumber dari tulisan saya, hanya pemikiran dan penilaian saya, saya tidak menggunakan sumber lain seperti buku, tetapi wawancara ke teman saya yang kuliah jurusan psikologi di UGM yang masih sophomore pula. Jadi jika ada kesalahan dan kekurangan dalam menyampaikan saya mohon maaf, he3. Saya baru saja latihan menulis, jadi agak formal gini jadinya. Harapan saya, semoga tulisan ini bermanfaat ajah bagi para pembaca dan mohon kritik dan saran agar dapat menyajikan tulisan berikutnya dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s