Dewasa dinilai dari Usia ato dari Akhlak dulu ya???(1)

Posted: August 21, 2010 in IdeQ
Tags:

17 Agustus 2010

01:20

Suisouryou C-305

Malam ramadhan kali ini sangat terasa hambar, uhmm mungkin lebih baih diisi dzikir dan solat malam kali ya…tetapi, kok rasanya enggan dan malas. Salah satu sebabnya adalah saya didepan computer…wehehehe, dengan winamp yang aktif, AC yang membuat ruangan ini bersuhu sekitar 20℃, dan masih dengan mata yang tanggung untuk tidur, jam 2:30 mo sahur..takut ga bisa sahur, ya udah dari pada ngadepin pesbuk. Sedikit ingin mengeluarkan uneg-uneg, dan uneg-uneg itu aku lom dapat membuat gambarannya.

Suatu hari, 日本語学校(nihongo gakko: sekolah bahasa jepang) sensei ngadain debat, dan temanya batas minimal usia orang dianggap telah dewasa, uhmm yah banyak yang pendapat, klo di jepang 二十歳(hatachi: 20 tahun)udah masuk 社会人(shakaijin: social people) yang disana kita harus mematuhi segala peraturan yang ada tanpa kecuali, jika kita melanggar, di jepang hukumannya ga setengah-setengah. Yang aku lihat di perusahaan dan di film-film jepang, bisa dipecat, potong gaji, dan turun jabatan secara langsung…karena semua gerak-gerik pekerja selalu dilihat oleh atasan.

Dewasa, nah klo di Indonesia 17 ato 18 tahun…terus yang didapat dari usia tersebut, kebanyakan bisa minum alcohol, merokok, ikut pemilu dan perlu diketahui, segala sesuatu yang ada konten porn ada tulisan 18+ dan masih banyak lagi…kehabisan ide.

Dan ada kemungkinan negara-negara lain menetapkan usia dewasa di usia yang berbeda, who knows

Terus kan sekarang lagi suka “Go to International”(udah ga usah sok deh), ada enggak ya badan WHO ato apalah yang berhubungan dengan psikis, yang menentukan usia dewasa? Itu yang pertama. Setelah itu, ada enggak ya buku ato UU(biar kerenan dikit) yang menjelaskan secara rinci, bagaimana kah karakter seorang yang dewasa? Dari A nenek moyang sampe cicitnya Z, dibuku itu selain karakter, tertulis juga tips-tips dan latihan kalo perlu ada tesnya buat lulus menjadi orang dewasa. Aku sangat berharap. Karena apa? Karena kedewasaan merupaka salah satu wujud dari pendidikan moral dan psikis yang telah sering diacuhkan oleh sekolah sekolah(terutama di Indonesia, baru liatny Indonesia sih), makanya banyak tuh sekarang orang yang udah tua secara umur tapi kedewasaannya tidak sebanding dengan usia(jadi dewasa itu bisa dibandingkan dengan umur nih?)

Seriing ingat dikatain oleh orang tua, kamu tuh dah gedhe, udah dewasa!!! Jadi berfikir, emang sih aku sudah lebih dari 18 tahun, tapi apa ya yang menjadi penilai orang tuaku mengatakan aku “DEWASA”? Yups, jawabannya adalah cara pandang kebanyakan orang kalo USIA lebih dari 18 tahun itu dewasa! Gedhe itu bukan selalu berarti dewasa. Dan ketika aku bertemu dengan orang lain yang bisa dijuluki, 大先輩(daisenpai: kakak yang udah senior banget…bahasanya berlebihan), kamu itu seharusnya berpikiran dewasa. Nah loh, beda banget!

Pernah aku memulai sedikit investigasi ke temen-temen, klo ini urusannya bukan lagi dewasa itu apa namun, bagaimanakah mereka memaknai sebuah kedewasaan. Ada temen ku yang mengatakan “Dewasa adalah pengontrolan diri” yang sebenere dikutip dari psikolog amerika ato manalah negara barat, jadi orang itu akan dikatakan dewasa jika dia sudah dapat mengontrol dirinya sendiri untuk berbuat yang seimbang terhadap dirinya dan orang lain. Sepertinya salah satu akar dari pernyataan ini adalah slogan popular yang dianut oleh bangsa liberalis, “Bebas yang bertanggung jawab” nah, sama aja kan sebenernya, kita bebas ngelakuin apa aja, tapi kita juga bertanggung jawab jika apa yang telah kita lakukan ini merugikan orang lain, cuma bahasanya yang diganti aja. Tetapi bener juga apa yang dikatakan temen saya, karena pada dasarnya langkah manusia itu ada ruang batas, dan batas itu adalah hukum. Hukum dapat dibuat oleh pemerintah, tetapi hukum dapat dibuat oleh suatu komunitas kecil, kerena keadaan dan posisi mereka. Hubungannya orang dewasa dengan hukum apaan? Seperti apa yang saya jabarkan tadi, “Bebas yang bertanggung jawab” dengan slogan yang padat ini, kita dapat belajar 1 hal yang pasti, orang dewasa itu “Bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan terhadap siapapun tanpa kecuali termasuk terhadap dirinya sendiri, karenanya orang dewasa akan berfikir 1000 kali jika akan melakukan sesuatu ato memutuskan sesuatu”. Di agama mana pun, pengontrolan diri juga ditekankan dalam ajarannya, akhlak, budi pekerti, tingkah laku. Makanya ketika usia SD kita sering dikenalkan kosakata, budi pekerti, tenggang rasa, ikhlas, tolong-menolong dan lain2.

(bersambung)

Comments
  1. roe says:

    nulisnya acak, g rapi, g terstruktur dgn baik, lebih banyak ngalor-ngidulnya daripada inti yg menjelaskan judul tulisannya sendiri, ato mau denger apa yg mau didenger nich? karna kamu adalah tipe orang yg selalu mengacuhkan dan menganggap enteng apa yg seharusnya kamu dengar dr orang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s